Pagelaran Wayang Kulit Bisa Menjadi Media Komunikasi

Wayang Kulit
Pagelaran wayang kulit bukan hanya sekedar menjadi tontonan saja tetapi juga dapat dijadikan media komunikasi menyampaikan hal-hal penting, khususnya pitutur budi pekerti. Yang telah kita ketahui. Di zaman para Wali, wayang kulit dijadikan sarana untuk berdakwah. Dengan cara tersebut masyarakat jawa pada saat itu pelan-pelan mengenal Islam. Metode tersebut dipilih karna tontonan wayang kulit sangat digemari oleh masyarakat. Sehingga Sunan Kalijaga, merubah bentuk wayang yang tadinya seperti manusia, lalu menjadi yang kita ketahui sekarang ini. Jadi tidak hanya tontonan gerakan ketrampilan tangan saja. Tetapi sarana yang efektif untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat.

Saat ini memang earanya sudah menyentuh digitalisasi dan merambah media sosial. Para dalang dituntut harus dapat menyesuaikan dengan zamannya. Seperti wayang itu sendiri, selalu mengikuti zamannya. Jika zaman dahulu pegelaran wayang bisa sampai pagi terbitnya matahari. Tetapi sekarang tidak sampai satu malam, hanya beberapa jam saja. Sama halnya cerita wayang tentang Mahabarata. Dimana perang yang pertama pihak dari Kurawa Senopatinya adalah Begawan Bisma. Beliau memimpin perang sampai berhari-hari, lalu akhirnya berhasil dikalahkan oleh Srikandi. Tetapi setelah beliau gugur, Senopati dari pihak Kurawa hanya bertahan sehari dua hari. Dalang

Didalam lakon wayangkulit banyak hal intisarinya yang dapat disampaikan kepada masyarakat. Misalnya cerita Babat Wono Marto. Dari lakon tersebut menggambarkan bahwa Pandawa, diberikan hutan oleh Destarata, untuk dibangun istana dan biayanya berapa sudah disiapkan. Tetapi Pandawa tidak ada yang mau menerima bantuan tersebut, memilih dikerjakan sendiri. Karna merasa tidak memperlukan bantuan dan belum apa-apa sudah ingin ditolong. Memang para Pandawa sendiri selalu bersatu dan dikerjakan bersama-sama Cerita Lakon Wayang

Memang bahasa dalam pewayangan sangat tinggi sastranya, jadi jika mau tahu isi makna setiap lakon harus pelan-pelan belajar. Seni mendengarkan wayang kulit bukan saja terletak di dalangnya yang ganteng, sindennya yang cantik-cantik atau niaganya selalu siap siaga. Tetapi berusaha memahami isi kandungan apa yang disampaikan oleh dalang. Karna dalang sendiri sesungguhnya tidak hanya berdialog antar wayang tapi juga dengan semua yang hadir disitu, termasuk penonton.

Next Post Previous Post


Silahkan Baca Juga: