Abimanyu Gugur

Tewasnya Abimanyu secara ironis dalam Baratayuda menurut pewayangan yaitu sebab termakan sumpahnya sendiri. Saat waktu dia akan menikah dengan Dewi Utari, putri bungsu Prabu Matswapati. Pada waktu itu Dewi Utari menanyakan apa Abimanyu masih perjaka atau tidak. Abimanyu menjawab, masih perjaka, Dewi Utari tak yakin, sebab dia dengar kabar angin terkait perkawinan Abimanyu dengan Dewi Siti Sundari, putri Prabu Kresna. Buat memastikan kebenaran jawaban bohongnya, kala itu itu Abimanyu berucap jika sudah menikah maka nanti ditengah perang Baratayuda, tubuhnya dipenuhi dengan luka-luka. Mendengar seperti itu Dewi Utari lantas percaya terlena dalam pelukan sang Abimanyu.

Selaku tandanya kasih serta bakti terhadap suarni. Ketika pembakaran mayat Abimanyu, Dewi Siti Sundari melaksanakan ikut didalam api pembakaran jenazah. Istri pertama Abimanyu itu menerjunkan diri ke api pembakaran mayat menyertai suami tercintanya. Istrinya yang lainnya, Dewi Utari tak melaksanakan hal sama, sebab sewaktu itu lagi hamil tua hampir melahirkan.

Dalam cerita pewayangan, perkawinan Abimanyu serta Dewi Utari terjadi sehabis memenangkan sayembara. Menurut sayembara itu, siapapun bisa memangku Dewi Utari, merupakan yang bakal jadi suaminya. Banyak pangeran serta raja yang coba mengikuti sayembara itu, untuk mempersunting putri raja Wirata. Akan tetapi tetapi tak ada seseorang yang bisa memenuhi permintaan Utari. Terkecuali Abimanyu diantara peserta yang lain. Perihal ini disebabkan oleh Dewi Utari yaitu putri yang memperoleh Wahyu Hidayat, sementara itu Abimanyu yaitu kesatria yang mendapatkan Wahyu Cakraningrat.

Perkawinan itu digelar secara semarak di Upalawya, wilayah Wirata yang nantinya dijadikan pasanggrahan oleh para Pandawa. Dalam acara tersebut raja ternama di undang semuanya seperti Prabu Kresna, Prabu Puntadewa, Prabu Baladewa, Prabu Salya, Prabu Kurupada, Prabu Duryudana, Prabu Ngawangga dan lainnya.

Terkait tewasnya Abimanyu, dalam Mahabarata diceritakan. Dalam hari yang ke 13 itu, Patih Sengkuni merencanakan gelar perang Sapiturang. Dengan maksud memerangkap kesatria Pandawa masuk di jebakan kepungan Akan tetapi Resi Drona, memperingatkan bahwa gelar itu mempunyai kandungan kekurangan. Sebab Arjuna telah paham bagaimana karakter gelar perang itu. Karena itu Arjuna akan mengingatkan saudara-saudara serta panglima perang Pandawa. Yang lain agar tak teperdaya. Patih Sengkuni itu maka strategi gelar perang Sapiturang dilakukan oleh pasukan dari Hastina. Agar taktik perang ini sukses, Duryudana lalu menyuruh Prabu Susarma dari Kerajaan Trigarta menentang Arjuna berperang tanding. Lalu berusaha biar Arjuna menjauhi tengah gelanggang pertempuran. Jika bagaimana Arjuna jauh dari gelanggang, gelar Sapiturang akan sukses. Sebab Arjuna tidak akan tidak sempat mengingatkan pasukannya harus menggunakan gelar yang seperti apa.

Waktu pagi hari itu Susarma sukses membikin panas hati Arjuna maka kesatria Pandawa itu mengejarnya hingga jauh ke luar gelanggang. Saat tengah hari, taktik perang Sapiturang ditrapkan. Bratasena serta Puntadewa ragu menghadapi taktik perang saingannya itu. Akan tetapi tetapi Abimanyu lekas ajukan dirinya sendiri, sebab ia mengetahui sedikit tahu taktik perang itu.

"Hamba bisa menerobos barisan Kurawa, akan tetapi hamba tidak mengerti tahu jalan keluamya." Ucap Abimanyu dihadapan para sesepuhnya para Pandawa.

"Majulah, sebab kami semuanya akan tetap ada dalam belakangmu." Tegas Puntadewa kepada anak keponakannya itu.

Ketika Abimanyu, maju dia segera ada ditengah kepungan musuh Puntadewa dan para Pandawa yang lainnya tidak bisa ikut. Sehingga Abimanyu, hanya sendirian saja menghadapi para panglima dari Kurawa dan dia melawan satu per satu bahkan Prabu Salya serta Druna dibuat terluka olehnya. Dan tidak hanya itu saja putra kesayangan Prabu Duryudana, yaitu Pangeran Lesmana juga ikut tewas di tangan Abimanyu terkena Keris Tulang Geni.

Dia sempat juga ajukan pertanyaan, kenapa beberapa orang orang yang dia anggap mulia. Tetapi prilakunya itu menyalahi peraturan perang dengan seperti itu. Ketika Arjuna, kembali putranya itu telah tiada.

Next Post Previous Post


Silahkan Baca Juga: