Adipati Destarata Wafat VS 1

Adipati Destarata dan Dewi Gendari adalah orang tua dari para Kurawa. Beliau wafat ketika sebelum meletus perang Baratayuda, tepatnya ketika akan dilaksanakan beberapa hari lagi. Adipati Destarata, yang telah diceritakan dalam lembaran Rontal sejarah bahwa beliau merupakan kakak kandung dari Prabu Pandu Dewanata. Dimana menggantikan posisi menjadi raja untuk sementara waktu di kerajaan Hastinapura. Di saat Prabu Pandu meninggal dunia dan ketika itu putra-putranya yaitu Pandawa masih kecil, belum sanggup memegang tampuk kekuasaan. Tetapi nanti bila Pandawa sudah dewasa kekuasaan tersebut harus dikembalikan kepada mereka lagi. Ditengah perjalanannya waktu putra sulung dari Adipati Destarata, yaitu Duryudana ingin menjadi raja Hastina walau hanya sebentar tapi yang penting telah merasakan menjadi raja. Kurawa

Pada waktu itu terjadi pertemuan besar-besaran di Pendopo Agung kerajaan Hastinapura. Untuk membahas duta Pandawa yang ketiga. Dimana duta yang sebelumnya yakni pertama dan kedua telah gagal tidak mendapatkan hasil, keluar dari Pendopo Hastina dengan tangan hampa. Sesuai janji Duryudana, jika Pandawa di hutan selama 12 tahun dan satu tahun umpetan (Sembunyi-sembunyi) maka kerajaan Ngamarta serta sebagian wilayah Hastina akan diberikan. Semua itu dapat dilakukan oleh para Pandawa dengan baik. Jadi duta yang pertama dan kedua di utus untuk menagih janji kepada Duryudana. Orang yang ditagih tersebut tidak mau memberikannya. Lalu, lahirlah duta yang ketiga yaitu Prabu Kresna sebagai penentu. Duta Pandawa

Saat Prabu Kresna, datang dan sedang berbicara serius dengan Duryudana tiba-tiba Dewi Gendari menghampiri putranya. Prabu Duryudana, yang melihat ibunya datang dan menghampirinya segera bertanya ada apakah gerangan. Dengan cepat Dewi Gendari, menyaut pertanyaan putranya itu bahwa kerajaan Ngamarta dan sebagian wilayah Hastinapura diberikan saja pada Pandawa. Jangan sampai ada yang tercecer walau hanya satu jengkal saja. Prabu Duryudana, ketika mendengar perkataan ibunya itu diapun merasa kaget dan seluruh orang-orang di Pendopo Hastina juga terkejut tatkala mendengarkan pernyataan Dewi Gendari. Rasa keterkejutan itu hanya di simpan dalam relung fikirannya Duryudana dan orang-orangnya tidak berani dikeluarkan. Setelah Dewi Gendari, melihat bahwa putranya itu menyanggupinya dia lalu keluar dari Pendopo dan kembali lagi ke Kaputren. Untuk menemani Adipati Destarata, yang tidak bisa jauh dari dirinya.

Ketika Dewi Gendari, sudah tidak terlihat lagi bayangannya di Pendopo Hastina. Prabu Duryudana, membatalkan apa yang diucapkannya tadi waktu didepan ibunya. Dia malah memarahi Prabu Kresna yang saat itu menjadi dutanya Pandawa. Dan dari arah luar Raden Sentiaki, temannya Prabu Kresna datang memberitahu bahwa mereka berdua telah dikepung oleh prajurit Hastina. Sontak, Prabu Kresna berubah menjadi Raksasa tubuhnya agar bisa melawan prajurit yang mengepungnya. Bila tidak seperti itu akan kewalahan.

Mendadak, suasana di ruangan Pendopo menjadi riuh dan bergeser di Alun-alun kerajaan Hastinapura. Prabu Kresna dan Raden Sentiaki, berusaha keras memberikan perlawanan sengit kepada prajurit Hastina. Karena Prabu Kresna, berubah menjadi Raksasa yang sangat besar tubuhnya. Jadi setiap tanah yang diinjaknya bergetar. Apalagi ketika Prabu kresna melompat ke udara untuk menghindari serangan dan menginjak bumi lagi, otomatis getaran yang ditimbulkan semakin kencang. Dan suara prajurit juga semakin bertambah riuh hingga terdengar kemana-mana. Prabu Kresna, juga tampaknya sangat bersemangat untuk melawan para Kurawa, dalam hatinya agar Pandawa tidak perlu susah-susah melawan saudara sepupunya itu. Biar hari detik itu juga para Kurawa di gulungnya. Cerita Wayang

Getaran tanah yang di akibatkan oleh Prabu Kresna yang telah berubah menjadi Raksasa besar. Dirasakan hingga istana Kaputren, dimana Dewi Gendari dan Adipati Destarata sedang duduk-duduk santai berdua. Tanah, yang mereka injak terasa bergetar hebat sampai tubuh keduanya ikut bergoyang. Semula, Adipati Destarata dan Dewi Gendari mengira itu hanya gempa bumi, yang nanti akan reda. Tapi setelah ditunggu beberapa saat lamanya kira-kira sepemasakan nasi, belum juga hilang dan malah bertambah kencang saja. Dan dari luar benteng Kaputren, terdengar suara riuh. Adipati Destarata, lantas bertanya kepada istrinya Dewi Gendari setelah meninggalkan ruangan Pendopo apa yang terjadi. Tapi Dewi Gendari menjawab bahwa tidak ada apa-apa. Disitu Adipati Destarata, selintas berfikir bahwa Prabu Kresna yang salah faham dan sengaja mau menjadikan Kurawa bulan-bulanan. Karena dari itu Adipati Destarata, mengajak istrinya untuk menemui Prabu Kresna tapi Dewi Gendari tidak mau, khawatir akan kenapa-napa. Adipati Destarata terus memaksa istrinya itu, akhirnya Dewi Gendari hanya mengajak suaminya keliling didalam benteng Kaputren. Jadi Adipati Destarata hanya diajak muter-muter dibalik dinding benteng. Satu

Prabu Kresna terus membuat Kurawa montang-manting sehingga mereka pada berlarian entah kemana. Sebagian diantara mereka karena tidak ada jalan lagi akhirnya menjebol tembok benteng Kaputren. Dan pas disitu Adipati Destarata serta istrinya Dewi Gendari sedang berdiri untuk istirahat sejenak karena habis mengelilingi benteng. Tanpa disadari oleh kedua orang sepuh tersebut maka saat berikutnya keruntuhan tembok benteng Kaputren. Dimana ketika tembok benteng Kaputren tersebut runtuh para Kurawa, lalu berlari diatas puing-puing tembok. Karena disitu tempatnya Adipati Destarata dan Dewi Gendari, Prabu Kresna tidak melanjutkan dan dia pergi menjauh meninggalkan kerajaan Hastina. Dikarenakan sudah tidak ada lagi yang harus dia cari atau dibicarakan.

Next Post Previous Post


Silahkan Baca Juga: