Arjuna Tanding

Semar Boyong
Adipati Ngawangga yang dikenal dengan nama Karna. Dia adalah salah satu tokoh petinggi Kurawa selama Perang Besar antar Pandawa. Dapat dikatakan Adipati Ngawangga  adalah saudara tua Puntadewa, Bratasena dan Janaka putra pertama Dewi Kunti Talibrata. Menginjak ke minggu ketiga Adipati Ngawangga dijadikan Senopati oleh Kurawa menggantikan Durna yang telah gugur. Tapi Adipati Ngawangga tersebut juga gugur ketika tanding dengan Janaka. Adipati Ngawangga dia memperlakukan setiap Brahmana dengan sangat baik memberikan apa yang dimilikinya dengan ikhlas.
Cerita Wayang


Kresna dan Pandawa
Duta kedua dan ketiga dikirim oleh Pandawa untuk bertemu kepada Duryudana agar mengembalikan kerajan Ngamarta dan sebagian wilayah Hastina. Tapi Kurawa tidak mau memberikannya. Sebagai duta terakhir Prabu Kresna memastikan kembali dan hasilnya sama. Pada saat itu namun dilain tempat Prabu Kresna memberitahu ke Adipati Ngawangga bahwa dirinya adalah saudara kandung Puntadewa, Bratasena dan Janaka. Prabu Kresna terus merayu Adipati Ngawangga agar bersedia bergabung dengan Pandawa. Bahkan menurut Prabu Kresna jika Adipati Ngawangga mau masuk kedalam barisan Pandawa akan diberikan kedudukan tertinggi di kerajaan. Adipati Ngawangga sempat berada ditengah kebimbangan tapi dia kembali lagi di jalannya yaitu ada di pihak Kurawa saja. Adipati Ngawangga teringat bahwa Duryudana dulu mendudukan dirinya di tempat yang dari sebelumnya sehingga tidak dipandang remeh oleh Bratasena. Adipati Ngawangga mengganggap bahwa Kurawa adalah keluarga yang sejati. 


Sehabis itu Adipati Ngawangga bertemu dengan Dewi Talibrata membahas hal yang serupa. Kesempatan itu digunakan oleh Dewi Talibrata mengajak Adipati Ngawangga agar membantu adiknya para Pandawa. Tapi sikap kukuhnya pendirian kakak iparnya Duryudana tersebut, jawaban yang diberikan untuk Dewi Talibrata. Dan Adipati ngawangga juga mengatakan kepada wanita sepuh yang ada dihadapannya itu, kenapa dahulu dirinya dibuang ke sungai. Lalu sekarang mau tidak mau dia lawan tanding sama saudara kandungnya. Disamping itu Radha adalah orang tua kandungnya. Dewi Talibrata mendengar itu semua hatinya terasa tergigit ribuan semut rangrang. Adipati Ngawangga terus berkata bahwa dirinya hanya bertanding dengan Janaka saja.



Baratayuda lalu terjadi dua kelompok saling siap di tapal batas garis wilayahnya masing-masing. Dari pihak Kurawa yang menjadi Senopatinya adalah Bisma dan hingga nanti beliau gugur. Diawal pertempuran dari Kurawa sempat ada ketidak sukaan Bisma terhadap Adipati Ngawangga karena dia terlalu tinggi hati dan angkuh. Adipati Ngawangga terus berkata bahwa dia tidak mau ikut bertempur jika Senopatinya masih Bisma.



Setelah berhari-hari antara Kurawa dan Pandawa saling menggempur agar dapat memenangkan pertempuran segala macam strategi dilakukan. Satu minggu telah berlalu maka Bisma sebagai Senopati Kurawa harus menelan kekalahannya ketika dari pihak Pandawa Senopatinya adalah Srikandi. Akhirnya Bisma terluka oleh Srikandi dan Senopati sepuh tersebut harus berbaring lemas tidak berdaya ditengah arena laga, seketika pertempuranpun jadi terhenti sesaat lamanya, karena dia adalah orang yang paling tua diantara Kurawa serta Pandawa. Maka dari keduanya langsung mendekat waktu mengetahui Bisma dapat dikalahkan. Demikian juga Adipati Ngawangga yang sebelumnya sempat ada kesalah fahaman maka ketika Bisma kalah dia terus ikut mendekat untuk melihat bagaimana keadaannya. Sebelum Bisma meninggal dunia dia berkata kepada Adipati Ngawangga bahwa lebih baik bergabung dengan Pandawa, hal itu di ucapkannya dengan suara lirih pelan sekali sehingga tidak ada yang mendengar, hanya putra Dewi Talibrata saja. Karena Bisma juga tahu bahwa dia adalah saudara paling tua Pandawa dan sudah semestinya kalau menjadi satu bersama adiknya. Tapi Adipati Ngawangga masih berada ditempatnya berdiri yaitu tidak mau, dan memilih ada di pihak Kurawa hingga akhir hayatnya.




Meninggalnya Bisma, membuat Adipati Ngawangga benar-benar masuk kedalam pasukan Kurawa dan memberikan harapan baru, dikarenakan Senopati utamanya telah tiada. Pada saat itu Adipati Ngawangga, menyarankan ke Duryudana bahwa yang menjadi Senopati utamanya adalah Durna saja karena dia juga sesepuh Kurawa. Dan dia dapat dijadikan Senopati pendamping. Maka ketika Durna sudah menjadi Senopati kini Kurawa ada yang memimpin mereka.



Menginjak minggu kedua tepatnya hari ke 14 malam Adipati Ngawangga, telah melanggar peraturan yang disepakati bersama yaitu dilarang berperang di malam hari, karena semuanya harus istirahat. Dia melakukan itu pasti ada sebabnya yaitu Duryudana meminta kepadanya untuk membalaskan ke Gatot Kaca, yang membuatnya terkena luka dalam saat melawannya. Karena Duryudana tidak ada kemampuan untuk secara langsung menghadapi Gatot Kaca maka dia menyuruh Adipati Ngawangga saja. Karena diminta terus-menerus maka hatinya luluh. Akhirnya tanpa berfikir panjang Adipati Ngawangga mengeluarkan pusakanya yaitu Kontawijaya Danu dan ketika pusaka itu mengenai Gatot Kaca. Maka pusaka tersebut hilang dan tidak dapat kembali lagi. Disini ada dua versi yaitu yang pertama adalah Kontawijaya Danu, hanya dapat digunakan sekali saja tidak bolehkan digunakan duakali. Tapi dalam versi lain, Kontawijaya Danu, masuk kembali kedalam werangkanya yang ada didalam tubuh Gatot Kaca. Namun, Kresna sangat senang ketika pusaka Kontawijaya Danu sudah tidak ada lagi di Adipati Ngawangga, karena dengan begitu nanti ketika melawan Janaka, sudah tidak perlu yang dikhawatirkan.


Segugurnya Durna lalu Duryudana memilih Adipati Ngawangga dijadikan Senopati utama untuk melawan Pandawa. Tapi Senopati baru tersebut meminta mertuanya Salya yang nantinya menjadi kusir kereta kudanya, karena dia tahu bahwa Arjuna atau Janaka akan dikusiri oleh Prabu Kresna. Meskipun demikian Prabu Salya sebagai mertua tetap merasa tersentuh perasaannya. Oleh sebab itu selama diatas kereta kuda Prabu Salya tidak ada henti-hentinya membicarakan kehebatan serta kesaktian Janaka, dengan tujuan menantunya itu bergetar hatinya. Terus dia menandingi adiknya yang satu ibu itu. Karena dua-duanya memang sakti maka pertandinganpun sangat seru. Saat Adipati Ngawangga akan mengarahkan pusakanya panah ke arah Janaka, disitu Prabu Salya memberikan tanda kepada Prabu Kresna dan ketika Prabu Kresna melihatnya, terus membelokan kereta kudannya dengan menarik tali kekangnya. Kemudian panah tersebut hanya lewat saja. Setelah itu karena sang Bagaskara telah pulang keperaduannya maka pertandingan itu berhenti dan dilanjutkan besok hari. Setelah sang Mentari meninggi artinya itu sudah terang maka pertarungan dimulai lagi. Waktu Janaka mengarahkan panahnya ternyata yang terkena adalah bagian roda kereta kudanya Adipati Ngawangga, sehingga masuk kedalam lumpur. Segenap kesaktiannya dikeluarkan untuk melawan Arjuna tapi semua itu mendadak hilang dari ingatannya. Yang bisa dilakukan oleh Adipati Ngawangga adalah mengatakan kepada Arjuna untuk berhenti dulu tidak menyerang, karena dia mau memperbaiki kereta kudanya dulu sampai bisa dikendarai lagi. Tapi Prabu Kresna mengingatkan kalau Adipati Ngawangga juga beberapa kali melakukan hal yang tidak baik seperti ikut menyerang Abimanyu ketika sudah tidak berdaya dan terus menyerang dimalam hari yang menyebabkan Gatot Kaca gugur Gatot Kaca
. Dari situ Janaka menjadi hilang belas kasihannya.




Perasaan seorang istri yaitu Surpikanti waktu ditinggal maju perang oleh Adipati Ngawangga dia sudah merasakan tidak enak hati. Dan nyusul ke Kurusetra, setelah sampai disana maka dia segera melihat bahwa suaminya telah gugur. Tanpa berfikir lagi dia juga ikut dengan bunuh diri, dihadapan Janaka.


Demikian cerita singkat tentang gugurnya Adipati Ngawangga atau yang sering disebut dalam lakon Karno Tanding. Cerita Lakon Wayang
 

Next Post Previous Post


Silahkan Baca Juga: