Cerita Cakraningrat

Judul lakon Cakraningrat ialah menceritakan mengenai usaha tentang tiga orang satria. Seperti Raden Lesmana Mandrakumara, Raden Sombo Putra dan Raden Abimanyu yang merebutkan untuk memperoleh Wahyu Cakraningrat. Dimana siapa orangnya yang mendapatkan Wahyu Cakraningrat tersebut akan menurunkan seorang keturunan raja-raja dikemudian hari.

Tetapi untuk memperoleh tidak gampang karena beberapa persyaratan harus dipenuhi supaya Wahyu Cakraningrat, dapat menjadi satu dalam diri penerimanya atau sejiwa dengan satria yang di pilihnya.

Raden Lasmana Mandrakumara ingin mempunyai Wahyu Cakraningrat, dan ia harus bertapa di rimba Gangga Warayang. Di saat ditanyakan mengenai kesiapannya bertapa di rimba, karena itu Raden Lasmana Mandrakumara menjawab mampu bertapa di rimba itu. Tetapi ia ingin supaya dijaga paman-pamannya, salah satunya ialah Sengkuni dan Drona. Yang terpenting untuk Lasmana Mandrakumara ialah bawa makanan dan minuman dengan arak supaya tidak kelaparan di saat bertapa meraih wahyu. Dengan begitu diri sang tapa akan tenang hingga wahyunya kelak akan gampang bersatu. Itu pertimbangan beberapa sesepuh Hastina. Keberangkatannya diantar oleh beberapa punggawal prajurit naik kuda dan Lasmana Mandrakumara naik Joli Jempana yakni kereta yang ditarik lebih dari 2 ekor kuda.

Lain halnyadengan putra mahkota Dwarawati Raden Samba. Ia satriya yang pemberani ingin bertapa dalam rimba Gangga Warayang untuk meraih Wahyu Cakraningrat. Keberangkatannya diantarkan oleh beberapa senapati sampai di tepian Hutan. Seterusnya pergi sendiri dengan jalan kaki. Saat diperjalanan, Raden Samba berjumpa dengan beberapa orang Kurawa yang akan ke arah rimba Gangga Warayang buat menyongsong turunnya Wahyu Cakraningrat. Secara persaudaraan mereka sama-sama bertegur-sapa tapi sesudah mengetahui kepentingan masing-masing, mereka jadi beda opini. Awalannya cuman pertikaian mulut tapi pada akhirnya jadi pertikaian fisik. Karena Raden Samba hanya sendirian karena itu dia tidak sanggup menantang Kurawa dan pada akhirnya menyingkir. Ada satu kebulatan kemauan pada diri Raden Samba. Meskipun kalah perang menantang beberapa orang Kurawa dari Hastina tidak berarti keinginan untuk mempunyai Wahyu Cakraningrat stop. Wahyu Cakraningrat harus dapat dicapai dan menjadi kepunyaannya. Demikianlah pemikiran Raden Samba. Supaya tidak berjumpa sama orang Hastina yang urakan karena itu Raden Samba meneruskan perjalanan ke arah rimba Gangga Warayang dari bagian lain.

Berbeda dengan Raden Abimanyu yang dikerubut lima raksasa rimba, dan terlihat satriya itu cukup kerepotan. Kebenaran di angkasa kelihatan Raden Gatot Kaca yang mencari Raden Abimanyu atas perintah si paman Raden Arjuna. Dari angkasa Raden Gatot Kaca sudah menyaksikan secara jelas peristiwa yang menerpa Raden Abimanyu. Karena itu dengan selekasnya dan segera turun untuk menolong Raden Abimanyu. Dalam sekejab tamatlah kisah lima raksasa itu pada tangan Raden Gatot Kaca. Sesudah istirahat sesaat, Raden Abimanyu menerangkan ke Raden Gatot Kaca, jika ia mencari Wahyu Cakraningrat. Karena itu Raden Gatot Kaca dimohon supaya pulang dulu. Sesudah Raden Gatot Kaca pulang karena itu Raden Abimanyu meneruskan perjalanan sampai hingga pada sebuah gunung yang jadi sebagai tempat bertapa.

Dan Punokawan Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong ada di lokasi yang jauh menunggu selesainya Raden Angkawijaya (Abimanyu) bertapa. Telah beberapa bulan tidak ada pertanda akan usai bertapa.

Mendadak keempat panakawan itu di sebuah hari waktu tengah malam menyaksikan sinar benar-benar jelas turun ditengah rimba. Gangga Warayang sisi timur yang diikuti dengan suara gunung meledak. Panakawan kebingungan, cemas pada tuannya (bendaranya) yakni Raden Angkawijaya. Jangan-jangan suara barusan mengenainya hingga menyebabkan kematian. Baru saja akan bergerak mendadak beberapa panakawan dengar sorak-sorai, yang rupanya ialah beberapa orang Kurawa.

Kenapa dan ada apakah mereka bersorak-sorai? Wahyu Cakraningrat telah turun dan ada dalam diri Raden Lasmana Mandrakumara. Beberapa. Kurawa langsung ajak Raden Lasmana Mandrakumara pulang ke negeri Astina. Rasa suka ria yang tidak ada taranya sudah dirasa oleh semua punggawa Hastina yang dalam hatinya masing-masing merasa dan gembira. Beberapa kelompok tua salah satunya Drona, dan Sengkuni berasa senang dan berhasil mendidik Raden Lasmana Mandrakumara.

Hingga semua berbicara "jika tidak ada saya kemungkinan tidak berhasil untuk mendapatkan Wahyu Cakraningrat." Kelompok Kurawa selekasnya pulang untuk merayakan kekeberhasilan Raden Lasmana Mandrakumara. Diperjalanan pulang kelompok Kurawa tidak merasa jika perjalanan kembali itu telah mendapatkan setengah perjalanan. Mendadak Raden Lasmana meminta stop karena ia berjumpa orang yang jalan sedang bawa barang bawaan dan tidak menghormat saat ada di depan dirinya Lasmana Mandrakumara. Karena itu disepaklah sampai orang itu terguling-guling di tanah dan barang tentengannya terlontar jauh dan remuk amburadul.

Demikian ada peristiwa semacam itu karena itu beberapa punggawa yang berasa berjasa segera turut geram. Orang barusan terus digebukin dan disepak seperti bola. Orang itu lenyap beralih menjadi sinar dan masuk ke badan Raden Lasmana Mandrakumara dan keluar kembali bersama Wahyu Cakraningrat. Saat itu jatuhlah Raden Lasmana Mandrakumara sampai tidak sadarkan diri. Mereka bersama lari memburu Wahyu Cakraningrat dan sama-sama menyusul.

Raden Lasmana Mandrakumara ditinggalkan sendirian pada tempat itu. Sesaat kejadian itu berakhir, kelihatanlah dua sinar dari angkasa turun di rimba Gangga Warayang pada bagian samping barat. Selang beberapa saat Raden Samba yang bersemedi pada tempat itu berasa jika dianya bisa memperoleh Wahyu Cakraningrat. Ia benar-benar senang jika dengan kemampuan sendiri dapat memperoleh wahyu itu. Karena itu berangkatlah Raden Samba pulang ke Dwarawati dengan hati yang tinggi hati karena Wahyu Cakraningrat telah ada pada dirinya.

Mendadak Kurawa memburu dan minta wahyu yang telah ada dalam diri Samba. Tentunya Raden Samba tidak membolehkan. Terjadi peperangan yang seru. Rupanya tidak ada yang dapat mengalahkan kemampuan Raden Samba. Mereka lari tunggang langgang dan tidak lagi ada yang berani bertemu dengan Raden Samba. Dengan larinya beberapa Kurawa itu memiliki arti mereka sudah kalah dan tidak berani kembali mengusik perjalanan Raden Samba.

Demikian Raden Samba berasa dianya terkuat dan sakti mandraguna. Ia berani menjelaskan "akulah segala hal." Bahkan juga Raden Samba sudah berani kukuhkan, "Akulah orang yang hendak turunkan Beberapa raja "

Setelah melemparkan kalimat itu, ia lalu termenung sesaat, ia seperti dengarkan lengkingan kalimat si ibu dewi Jembawati "Anakku ngger Samba.

eling den eling ngati-ati marang sakehing panggoda. Eling-elingen ya ngger ya!" (anakku Samba, ingat dan waspadalah pada semua bujukan, ingat-ingatlah angger).

Dasar Samba anak yang takabur dan tinggi hati, kalimat ibunya itu selalu dikenang tapi tidak jadi perhatian. Dalam hati kecil Raden Samba berbicara "namanya orang kuat karena mendapatkan wahyu jadi tidak ada yang sanggup mengusik, misalnya Kurawa tidak akan sanggup menaklukkanku ha..ha..ha…" begitu kalimat tinggi hati.

Raden Samba. Sesaat kesombongan Raden Samba sedang bertahta dalam singgahsana hatinya. Saat itu terlihat di matanya seorang wanita bersama seorang.

lelaki tua. Sang wanita itu masih terbilang muda, elok berkulit kuning langsap, bermata juling. Mereka menghaturkan sembah ke Raden Samba. Dan pasti Raden Samba benar-benar ikhlas untuk terima sembahnya. Ke-2 nya ingin berbakti padanya. Itu kepentingan mereka berdua, kenapa ke-2 nya menghadap ke si yang menerima Wahyu Cakraningrat. Saat itu Raden Samba sudi untuk menerimanya tapi sang lelaki ditampik dengan argumen telah tua dan ditegaskan tidak sanggup bekerja, malah akan membuat kecewa saja. Dengan ejekan itu menyingkirlah orangtua itu. Sudah pasti sang wanita elok itu ikuti tapak jejak sang tua. Tapi Raden Samba sudah memburunya, sekalian membujuk sang wanita elok yang akui namanya Endang Mundhiasih. Jawab Mundhiasih sekalian melemparkan amarah atas ketidak adilan dan tidak ada rasa belas kasih pada orangtua, cuman wanita saja yang dikejar-kejar. Endang Mundhiasih berbicara "Wahyu Cakraningratmu tidak patut untuk mencela". Rupanya Mundhiasih dan orang lelaki tua itu selanjutnya lenyap bertepatan dengan cahaya Wahyu Cakraningrat pergi tinggalkan.

Raden Samba. Saat itu tubuh raden Samba berasa lemas seperti orang tidak berpengharapan dan tidak tahu apakah yang akan dibuat. Bukan main rasa sedih.

Raden Samba pada karakter tinggi hati dan congkaknya saat berasa wahyunya telah pergi. Wahyu Cakraningrat tidak kuat tempati rumah (badan) yang takabur dan tinggi hati. Pada akhirnya Raden Samba mengetahui jika Wahyu Cakraningrat bukan kepunyaannya. Bolehkah buat, nasi sudah jadi bubur karena itu pulanglah Raden Samba ke Kadipaten Parang Garuda di negara Dwarawati.

Pada tempat lain, di samping selatan rimba Gangga Warayang, kelihatan empat panakawan seperti umumnya masih menunggu selesainya tapa si bendara. Tugas.

semacam ini telah terlatih dilaksanakan oleh beberapa panakawan semenjak zaman Maharesi Manumayasa.Tetapi saat malam hari mereka berempat berasa seakan ada bayang-bayang hitam ada pas di tengah mereka. Bayang-bayang itu sekalian berbicara "Jawata akan marengake dheweke nampa Wahyu Cakraningrat ". (Dewata memperbolehkan ia untuk terima Wahyu Cakraningrat)Demikian beberapa panakawan bersuka cita karena bendaranya sudah memperoleh apa yang didiinginkan. Dan betul, Raden.

Angkawijaya sudah keluar pertapaannya. Mukanya terlihat ceria berkilau, badannya terlihat fresh utuh tanpa cela. Memang itu badan yang sudah berisi.

wahyu. Karena itu berangkatlah pulang dan mereka mempertimbangkan jika apa yang didambakan sudah terwujud dan selesailah. Mendadak tiba beberapa Kurawa memburu.

Raden Angkawijaya yang sudah mendapatkan Wahyu Cakraningrat. Beberapa Kurawa memburu Raden Abimanyu karena ingin merampas Wahyu Cakraningrat dan rupanya beberapa.

Kurawa tidak sanggup memburunya sampai Raden Angkawijaya telah tiba di istana Amarta yang di saat itu di Amarta sedang ada rapat teratur (siniwaka). Mereka.

semua mengucapkan syukur karena apa yang diharapkan Angkawijaya sudah jadi realita. Dan Angkawijaya-lah nantinya yang hendak turunkan beberapa raja di Jawa.Tidak.

lama selanjutnya kedengar suara ramai di luar yang rupanya beberapa orang Kurawa yang berasa jika Wahyu Cakraningrat menjadi punya Raden Lasmana Mandrakumara.

karena itu mereka inginkan supaya Wahyu Cakraningrat dikembalikan ke Raden Lasmana Mandrakumara. Peperangan di antara Kurawa dengan Pandawa tidak dapat dihindarkan.

Tetapi tidak ada sang jahat bisa menaklukkan kebaikan.

Next Post Previous Post


Silahkan Baca Juga: