Cerita Gatot Kaca Gugur

Duryudana dan pasukannya mengusung Prabu Ngawangga dijadikan sebagai senopati Agung sesudah Lesmana Pangeran Hastina gugur. Hari itu telah gelap, dan menurut ketentuan , perang di stop sebentar hingga besok matahari terang kembali. Tetapi tidak paham dihiraukan dari pihak Duryudana hal itu menyalahi peraturan. Dan mengirimi senopati perangnya di malam itu.

Prabu Ngawangga malam itu menerabas dan merusak pasukan Pandawa di barisan depan. Beberapa penjaga perkemahan tidak sanggup menyaingi si Prabu Ngawangga. Informasi itu cepat kedengar sampai seluruh perkemahan para Pandawa.

Lalu Prabu Kresna selanjutnya memanggil Raden Gatotkaca, raja Pringgodani, anak kedua dari Raden Werkudara dan dari seorang istri putri kerajaan Pringgodani. Raden Werkudara, mendengarkan apa yang telah disampaikan oleh Prabu Kresna kepada putranya yaitu diperintahkan untuk menjadi Senopati di malam itu juga, menandingi Prabu Ngawangga yang terkenal saktinya.

Malam makin terlarut, tetapi di angkasa kebun Kurukhsetra kilatan beberapa ribu hidup obor menyinari bawana. Nayal obor beberapa ribu prajurit kedua pihak yang sama-sama hajar gada, sikat pedang, lempar tombak dan kelebat kelewang dan hujan anak panah.

Gatotkaca kerahkan semua kesaktiannya dari mulai ajian Narantaka, Brajamusti terus dikenainya Kutang Antakusuma, terompah Basunanda dan dikeluarkannya semua tenaga yang dipunyainya. Dia terbang mengangkasa dan kadang-kadang menukik turun menyikat mangsanya satu per satu dengan cepat bagaikan kilat. Sehingga membuat Prabu Ngawangga harus turun gelanggang menghadapinya.

Semenjak dia lahir telah terlihat Gatot kaca, memperlihatkan tanda-tanda kesaktiannya. Dimana ari-arinya tidak dapat diputus dengan senjata apapun sajapun. Kuku Pancanaka Werkudara lewat, keris Pulanggeni Arjuna juga tidak ada mengatasinya dan semua senjata di Amarta telah diupayakan dikeluarkan. Tetapi tidak ada yang mampu putuskan tali pusarnya. Beberapa sesepuh Amarta seperti Prabu Kresna Prabu Puntadewa telah kehilangan akal cara bagaimana membantu Si jabang bayi Dewi Arimbi tersebut.

Raden Arjuna, si paman selanjutnya menyingkir sesaat , dan atas anjuran Prabu Kresna, dia untuk meminta bantuan dari Sang Pencipta Kehidupan. Menangani permasalahan itu. Di kahyangan Suralaya, keinginan Arjuna didengarkan oleh beberapa Dewa. Bathara Guru selanjutnya mengutus Bathara Narada untuk memberi senjata berbentuk keris Kunta Wijayandanu untuk menggunting ari-ari bayi Dewi Arimbi itu.

Bathara Narada turun dengan membawa senjata Kuntawijaya Danu untuk diberikan ke Arjuna yang waktu itu itu didampingi oleh beberapa punokawan, abdi tercinta. Tetapi pada tempat waktu yang lain Prabu Ngawangga sedang mengadu ke ayahnya, yaitu Bhethara Surya, meminta supaya diberikan senjata ampuh dan unggulan buat hadapi perang besar kelak. Dewa Surya selanjutnya menyarankan anaknya untuk merebut senjata Kuntawijaya Danu dari Bhethara Narada.

Karena Arjuna ialah saudara satu ibu ibu sama Prabu Ngawangga. Yang muka dan perawakannya benar-benar serupa, hanya suaranya saja yang membandingkannya. Karena itu saat Prabu Ngawangga dirias oleh Dewa Surya seperti mirip Arjuna, Bhethara Narada tidak dapat kembali membandingkan mana Arjuna dan Prabu Ngawangga Karena itu salah orang.

Untuk menolong si putera, Dewa Surya mengganti siang yang panas terang dan mendadak berubah seakan mendekati malam hari. Dan dengan usaha serta kesaktiannya terjadi gerhana matahari. Bhethara narada yang telah tua dengan muka yang selalu mendangak ke atas itu makin rabun karena gerhana ini.

Prabu Ngawangga terus selanjutnya mencegat Bethara Narada dan tanpa rasa berprasangka buruk, dia memberi senjata Kunta ke Arjuna palsu. Karena pekerjaannya telah usai, karena itu dia punya niat untuk kembali lagi ke kahyangan, tetapi dijumpainya Arjuna kembali yang disertai beberapa Punokawan. Sadar jika dianya tertipu, dia lalu memerintah Arjuna untuk merampas senjata Kunta dari tangan Prabu Ngawangga.

Perang tanding di antara Arjuna dan Karena juga tidak dapat dihindarkan. Tetapi, Raden Arjuna cuman sukses merampas warangka senjata Kunta dari Adipati Karena. Dia selanjutnya kembali lagi ke Amarta, dan ari-ari jabang bayi Arimbi yang nantinya namanya Gatotkaca itu dapat diputus dengan warangka itu. Fenomena juga terjadi saat sebentar sesudah ari-ari jabang bayi diputus, saat itu juga wearangka itu lenyap dan bersatu ke perut sang jabang bayi.

Saat ini saat perang besar Baratayuda terjadi, telah takdirnya Senjata Kunta cari warangkanya di badan Raden Gatotkaca. Tak berarti sesakti apa saja Gatotkaca, yang kabarnya berotot kawat, tulang besi dan kesaktiannya kuga ditempa di kawah Candradimuka, tetapi garis tangan Gatotkaca hanya sampai di sini.

Di gerbang yang pisahkan di antara alam fana dengan alam baka, sukma Kalabendana, paman Gatotkaca yang paling mengasihi Gatotkaca telah menanti untuk sowan ke pengayunan yang Karena itu Pemberi Hidup. Bahkan juga, karena demikian sayang, Kalabendana tidak akan balik ke asal hidupnya bila tidak bersama sepupunya itu.

Sementara Gatot kaca, matanya benar-benar tajam tahu semua gerak-gerik Si Prabu Ngawangga. Karena Gatot Kaca tahu bagaimana kisahnya ia mengetahui jika warangka senjata Kuntawijaya Danu, ada pada badannya apa yang terjadi terhadap dirinya. Dicoba untuk mengulur takdir, dia lalu terbang setinggi-antara awan-awan gelap yang menggantung tinggi di langit. Coba sembunyikan badannya antara gelapnya awan hitam dibawah temaramnya bintang-bintang.

Tetapi takdir memanglah tidak dapat dipercepat atau diundur. KuntaWijaya Danu lepas dari busur Prabu Ngawangga, yang dalam mengarahkan panah hamper persis seperti Arjuna. Dan cuman Arjuna yang sanggup memadai kemampuannya. Sekencang kilat, Kunta melesat ke angkasa. Di angkasa Kalabendana telah waspada menantikan keponakannya itu. Dan dengan cepat dia menumpang ke diatas senjata Kunta. Senjata Kunta dan Kalabendana, menusuk ke dada gatotkaca mengakhiri anak kesayangan Werkudara itu.

Dalam sekaratnya, Gatotkaca berkata," Saya ingin mati jika dengan lawan ku…". Badan Gatotkaca jatuh ke arah kereta Prabu Ngawangga. Tetapi Prabu Ngawangga bukan kesatria biasa, dia sekencang kilat melonjak dari keretanya. Jasad Gatotkaca menerpa kereta, keretanya luluh lantak, juga dengan 8 kuda dan kusirnya meninggal dengan berkeping-keping.

Luruhnya Gatotkaca jadi kabar bahagia untuk tim Korawa. Beberapa prajurit bersorak-sorai mengeluk-elukan si Senopati. Keyakinan diri mereka berlipat, semangat perang mereke bertambah dan kepercayaan diri semakin bertambah akan memenangkan perang besar ini.

Kebalikannya, duka cita dalam menyelimuti Pandawa. Ayah Gatot Kaca tak kuasa harus ditinggalkan putra kesayangannya untuk selamanya.

Sementara si ibu, Arimbi pun tidak tak kuat menahan kesedihannya. Arimbi menceburkan dirinya ke perapian membara yang sudah dipersiapkannya. Menjadi tekatnya bila kelak anak kecintaannya mati saat sebelum kepergiannya kea alam kelanggengan, ia akan nglayu membakar diri.

Dimana malam itu pihak Kurawa berhasil mengalahkan dari pihak Pandawa ditandainya gugurnya Gatot Kaca. Namun sesungguhnya kekalahan besar terhadap Prabu Ngawangga, dikarenakan senjatanya yang paling diandalkan musnah begitu saja tanpa dapat kembali dan itu sangat merugikan dirinya di hari berikutnya.

Next Post Previous Post


Silahkan Baca Juga: